UA-83233104-1

bintang jatuh br

Thursday, 8 March 2018

Waspada Anak Stunting, Penuhi Nutrisi pada 1000 HPK


Surabaya, sejak pagi langit sedikit redup. Namun suasana kota tetap menampakkan rutinitas dengan segala aktivitasnya. Dalam Rangka Hari Gizi 2018, Sabtu, 3 Maret 2018 NUB (Nutrisi Untuk Bangsa) mengundang blogger dalam acara Health and Nutrition Discussion yang
bertempat di Bangi Kopitiam, jl. Walikota Mustajab No 41 Surabaya.

Acara yang dihantarkan rintik hujan sejak pagi hari tak menyurutkan kami para blogger untuk tetap hadir dalam acara super keren ini. Dominasi kostum bernuansa merah serasa menjadi simbol bahwa kami siap dan tetap semangat menimba ilmu.

Serangkaian acara dikemas menjadi satu dalam tema “Nutrisi Terbaik 1000 HPK”. Diantaranya adalah:
  • Talk show Kesehatan “Menyediakan Gizi Terbaik dalam Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)”
  • Konsultasi Kesehatan
  • Cooking demo, oleh Chef Risa Navratilova dan Chef Dominicus Revaldi
  • Foto Both
Talk Show

Ada dua narasumber yang ahli dibidangnya, yaitu dr. Nur Aisyiah Wijaya, Sp.A atau yang akrab dipanggil dr. Nuril dari Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Unair. Dan Bidan Senior Atik Kasiati yang berdinas di RS DR. SUTOMO Surabaya.


Menurut dr. Nuril dengan memperhatikan gizi pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) bisa mencegah terjadinya anak stunting.
Apa itu Stunting?

Stunting adalah suatu kondisi gagal tumbuh pada anak balita. Kondisi ini mengakibatkan anak tampak terlau pendek untuk usianya. Stunting bisa terjadi karena kekurangan gizi pada sejak usia dalam kandungan dan masa setelah anak berusia 2 tahun.

Menurut suatu data Indonesia tercatat 7,8 juta dari 23 juta bayi menderita stunting, yaitu sekitar 35,6 persen. Padahal menurut WHO, batas toleransi stunting (bertubuh pendek) maksimal hanya 20 persen, atau hanya seperlima dari jumlah keseluruhan balita. Itu artinya, kita masih termasuk di bawah standart.

Inilah Pe Er kita untuk meningkatkan bagaimana memperbaiki angka tersebut sekaligus mencetak anak berkualitas.

Ya, stunting menjadi sebuah permasalahan, karena tak hanya terlihat secara fisik saja. Namun stunting ternyata juga bisa menimbulkan permasalan besar. Mengapa? Mari kita lihat akibat yang tejadi pada anak stunting.

Akibat Stunting

  • Umumnya anak stunting memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal. Hal ini karena perkembangan dan pertumbuhan otaknya kurang optimal.
  • Rentan terserang penyakit. Berkaitan dengan kekurangan gizi, maka anak stunting biasanya juga memiliki system imun yang rendah.
  • Produktivitasnya menurun.
Nah … ngeri khan akibat anak stunting? Oleh karena itu talk show seperi ini sangat dibutuhkan. Ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwa pemenuhan akan gizi pada anak harus betul-betul diperhatikan.

Yaitu sejak persiapan kehamilan bagi calon Ibu, serta selama dalam kandungan. Setelah lahir dan berusia 6 bulan bayi sudah boleh dikenalkan dengan makanan tambahan.

Bentar, mungkin masih ada yang belum tahu, "Mengapa sich harus usia 6 bulan bayi baru diberi makanan tambahan?"

Alasannya adalah pada usia tersebut pencernaan bayi sudah berkembang dengan baik. Selain itu pada usia 6 bulan umumnya bayi sudah tegak menyangga kepalanya. Hal ini bisa mencegah terjadinya tersedak pada saat makan.

Setelah usia Batita, pada masa pertumbuhannya, dibutuhkan asupan protein dalam jumlah yang lebih banyak. Apalagi di usia ini bayi sudah tak lagi mendapatkan ASI dari ibunya. Sebagai gantinya, adalah menu makanan yang kaya akan kandungan protein.

Berikut adalah alternatif sumber protein yang bisa menjadi pertimbangan dalam memilihkan menu pada makanannya.






Lebih lanjut menurut dr. Nuril bahwa bayi jika sudah pada masanya harus diberikan MPASI (Makanan Pendamping ASI). Alasannya, karena perkembangan tubuh bayi sudah semakin besar dan kebutuhan makanannya juga semakin banyak. Jika hanya mengandalkan ASI, maka akan kurang.
Untuk pemilihan jenis MPASI, baik home made atau komersial bisa disesuaikan dengan kondisi bayi maupun keadaan keluarga/ibu/pengasuh. Asalkan bisa memenuhi standart MPASI yang benar.

Selain MPASI ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi yang semua terangkum dalam standart pelayanan antenatal, yaitu:

  • Timbang badan, dan ukur tinggi badan.
  • Ukur tekanan darah.
  • Nilai status gizi (ukur LiLA).
  • (ukur ) Tinggi Fundus Uteri.
  • Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin.
  • Skrining status Imunisasi TT (dan Pemberian Imunisasi TT).
  • Pemberian Tablet Besi (90 tablet selama kehamilan).
  • Test Lab Sederhana (Gol darah, Hb, Glukoprotein Uring) dan atau berdasarkan indikasi (HBsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC)
  • Tata laksana kasus
  • Temu Wicara (Konseling) termasuk P4K serta KB PP


Pembicara ke dua adalah seorang Bidan senior. Atik Kasiati yang berdinas di RS DR. SUTOMO Surabaya. Berkaitan dengan bayi berkualitas, Bidan Atik menjelaskan bahwa perjalanan pertumbuhan dan perkembangan yang berkaitan dengan gizi harus dimulai sejak remaja atau sebelum nikah. Dimana seorang calon ibu harus mempersiapkan kesehatan jauh sebelum menikah. Setelah menikah persiapan kehamilan tak kalah pentingnya. Lalu menjadi keharusan setelah ibu mulai mengandung. Sejak dalam kandungan inilah kebutuhan akan nutrisi harus benar-benar diperhatikan, hingga kelahiran dan 1000 Hari Pertama Pertama Kehidupan.

Lebih lanjut bu Atik mejelaskan bagaimana kita akan menjalani siklus hidup. Yaitu program Continuum of Care (serangkaian perawatan) yang harus dilalui dari sejak remaja hingga lansia.

Lebih jelasnya marilah kita lihat gambar yang tercantum di bawah ini:



Puas dengan dua narasumber yang telah memberikan banyak bekal ilmu kesehatan. Tak ketinggalan acara ini juga dihadiri oleh Bapak Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone. Dalam sambutannya bapak Arif, mejelaskan betapa pentingnya akan ketersediaan pangan yang bergizi. Selain itu juga mengajak kita untuk terbiasa bergaya hidup sehat. 

Cooking Demo

Acara dilanjutkan dengan demo memasak. Kali ini resep yang disuguhkan berasal dari ibu Alina Pujawati adalah pemenang Lomba Kreasi Resep Danone di kalangan internal karyawan Danone dengan membawakan menu Agar-Agar Labu Kuning. 
Caranya saat akan mencampurkan labu kuning dalam agar-agar, terlebih dahulu labu kuning di kukus, lalu dihaluskan.

Sementara menu ke dua dibawakan oleh Chef Risa Navratilova dan Chef Dominicus Revaldi.

Ayam Pesto Kelor dan Katuk

Meski terlihat simpel, menu ini memiliki kandungan nutrisi yang lengkap, karena ada karbohidrat, lemak, protein, serta vitamin. 

Bahan yang dibutuhkan simple saja, yaitu fillet ayam yang direndam dalam larutan bawang, gula dan garam. Lalu bumbunya adalah bawang putih, lada, garam dan gula. Sebagai pelengkapnya, ada acar sayuran yang terdiri dari: Bawang merah, apel batu, tomat, wortel dan selada air. 
Tara .... Ayam Pesto Kelor dan Katuk siap dinikmati. Eemmmm ... delicious ...


Tak hanya itu, acara talk show kali ini juga difasilitasi konsultasi kesehatan gratis. Di area ini kita juga bisa sekaligus mengukur tingi badan dan berat badan, serta pemeriksaan kesehatan.


 Alhamdulillah .... kami dapat mengikuti semua acara dari awal hingga akhir. Empat jam berlalu tanpa terasa, karena banyak manfaat yang di dapat serta penyajian acara yang menarik membuat kami betah bertahan sampai acara selesai.

doc. pribadi

8 comments:

  1. Waaaa, asyik banget acaranya y mba
    Padat bergizi

    ReplyDelete
  2. Memang beda ya Mbak kalo kameranya bagus, hehe.
    Terima kasih sudah semeja dengan saya, mbak. Kapan-kapan ketemuan lagi di event yang banjir ilmu...

    ReplyDelete
  3. Jadi ngebayangin gimana ya nanti aku kalau lansia hehehe... harus perhatikan continuum of care nya sejak sekarang ink

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak ... kayaknya harus disiapin dari sekarang hehe ...

      Delete
  4. Informasi yang bagus, Mbak. Aku baru tahu semua hal2 yg mbak jelaskan di atas. Terima kasih ilmunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ... semoga bermanfaat

      sama2 mbak

      Delete

Terimakasih sudah menggunakan blog ini sebagai referensi.