UA-83233104-1

bintang jatuh br

Sunday, 12 July 2015

Pendaftaran Gontor, Pengalamanku bersama Sulung (Bag. 1)

Pondok Gontor, ceritaku saat mendaftar

Ramadhan telah datang. Saat-saat yang kutunggu telah tiba. Yaitu mendaftarkan sulungku ke Pondok Pesantren Gontor. Sabtu pagi, sehabis shalat Subuh kami berangkat ke Ponorogo, tujuannya ke Pondok Modern Gontor I. Sengaja berangkat pagi-pagi, agar bisa mengawali pendaftaran. Karena jarak tempuh dari rumah (Sidoarjo) ke Ponorogo lumayan jauh, yaitu sekitar 5 jam perjalanan. Kami baru sampai tujuan pukul 11.15. 

Setelah mencari parkiran mobil, kamipun bergegas ke tempat pendaftaran. Sesampainya di tempat pendaftaran, hatiku bertanya-tanya, “kok sepi?”. Ya, memang waktu itu aku Cuma melihat deretan bangku yang tersusun rapi, dan satu orang laki-laki yang duduk di depan deretan bangku tersebut. Bergitu bertanya tentang pendaftaran, hatiku sedikit dibuat kecewa. Karena ternyata pendaftaran tutup 15 menit yang lalu. ya, tepat jam 11, tidak lebih sedikitpun. Bahkan ada yang datang jam 11.01, tetap nggak bisa daftar. Terpaksa harus menunggu pembukaan pendaftaran berikutnya. 

Malam. Jam 20.30, sehabis shalat terawih, pendaftaran
dibuka kembali. Dan yang membuat saya kaget, ternyata peserta yang mendaftar sebelum jam sebelas pagi sudah mencapai angka di atas 600. Mereka mendapat jadwal ujan lisan dua hari setelahnya, yaitu senin. Hehmm… aku menghela napas panjang. Harapanku semula bisa mendaftar lebih cepat, dan bisa ikut ujian lisan hari itu juga, sehingga bisa langsung balik ke Sidoarjo tanpa harus menginap. 

Ku hitung-hitung, mereka yang mendaftar sebelum aku aja mendapat jatah ujian hari senin, berarti setelah itu besar kemungkinan hari selasa. Jadi terpaksa harus mencari penginapan.
Sebetulnya, di sana kita diberi banyak kemudahan. Karena pondok menyediakan asrama khusus parent di dalam kompleks pondok. Dan itu tidak dipungut biaya. Hanya sayangnya, banyaknya asrama tidak mampu menampung semua pendaftar yang memang jumlahnya lebih banyak lagi. Jika dihitung bisa mencapai tiga ribuan orang katanya. 

Saran saya anda yang ingin mendaftarkan anak ke Gontor dan tempat tinggalnya jauh, sebaiknya berangkat malam. Pokoknya anda prediksi sendiri kapan harus berangkat sehingga bisa sampai di Gontor sebelum jam 9 pagi. Ini supaya anda mendapat nomor awal, sehingga mendapat jatah ujian lebih dulu. Tujuannya agar anda tidak perlu menginap lebih lama.

Selajutnya, kami mencari tempat buat menginap di luar asrama. Ternyata ada juga asrama milik pondok di luar kompleks asrama, tapi yang ini ada biaya sewanya. Tarifnya tidak mahal, yaitu:
- Kelas A sebesar Rp 150.000,-
- Kelas B sebesar Rp 100.000,-
- Kelas C sebesar Rp 50.000,-

Jika kelas penuh, mereka menawarkan di hall, dimana hanya dikenakan biaya sewa spon/ alas tidur busa yang dikenakan tarif perkepala sebesar Rp 15.000,-. Tempatnya lumayan sejuk, karena memang sirkulasi udaranya cukup dan juga ada beberapa kipas angin besar yang digantungkan di atas. Nggak mengecewakan kalo untuk beristirahat, karena suasananya juga tenang. Lumayan daripada harus menggelar tikar di lapangan. Hehe... Karena pendaftar sebelumnya banyak dari mereka yang harus menggelar tikar dan tidur di lapangan karena tidak tempat menginap. Pastinya sangat tidak bagus bagi kesehatan kalo kita tidur di tempat terbuka malam hari.

Malam, waktu pendaftaran 

Karena tidak ingin ketinggalan atau menjaga kuota pendaftar malam itu tutup, maka kami membagi tugas. Suami dan si sulung ikut shalat terawih di masjid, sementara saya shalat terawih sendiri di hall. Sengaja shalat kupersingkat hanya 8 rekaat plus witir 3 rekaat. Tepat jam 20.00 aku berangkat ke tempat pendaftaran, sementara sulung masih shalat terawih. Selang beberapa saat setelah aku mengisi formulir, suami dan si sulung datang. 

Setelah mengisi formulir pendaftaran dan semua persyaratan sudah dilampirkan kami menyerahkan ke tempat yang ditunjuk. 

Ada satu lagi persyaratan yang harus dilampirkan yaitu tes kesehatan. Kita tinggal datang ke BKSM yang telah ditunjuk, lalu mendapat nomor antrian. Namun lampiran yang ini bisa menyusul, jadinya saya selesaikan pendaftaran terlebih dahulu.

Saat proses pendaftaran, kita akan diberi nomor dan kartu ujian. Di situ sudah tercantum kapan kita akan ujian. Lalu pihak pondok akan memberikan penawaran pada sang anak, “mau berlebaran di rumah atau di pondok?”. Jika berlebaran di pondok, maka sejak kita daftar itu hingga selesai ujian semua, termasuk ujian lisan dan tulis anak diwajibkan tinggal di asrama. Namun jika memilih lebaran di rumah, maka anak diijinkan pulang dan harus datang lagi saat ujian lisan, ujian tulis dan saat pengumuman kelulusan. Jadi rentangnya cukup lama, yaitu sejak tanggal daftar 11 juli sampai 1 Agustus. Yaitu sekitar 20 hari. 

Sebagai orang tua aku sebetulnya keberatan jika hari itu sudah harus tinggal di asrama, tapi memikirkan jarak yang jauh dan harus bolak-balik akupun  juga berat. Berat di waktu dan juga diongkos, dan yang lebih penting lagi kasihan sang anak, pastinya sangat capek, setelah itu harus ujian. Takutnya ujiannya nanti tidak maksimal.

Akhirnya aku lebih suka memilih dia tinggal di asrama. Cerita selanjutnya klk di sini!
Lanjut ke Pendaftaran Gontor, Pengalamanku bersama Sulung (Bag. 2).

2 comments:

  1. Kalau di gontor pokoknya siap nginap dan antri mak hehe ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe... iya mak belum pengalaman.

      Delete

Tuliskan saran dan masukkan, demi perbaikan konten agar lebih bermanfaat bagi pemirsa semua