Dulu saya sempat bimbang, antara
resign atau tetap bekerja. Tentu saja ini terjadi setelah menikah dan memiliki anak. Mungkin sama alasannya dengan Mahmud (Mamah Muda) lainnya, yaitu ingin fokus pada keluarga. Pernah sich waktu masih remaja berangan-angan menikah, lalu punya anak, pagi-pagi menyiapkan makan suami, mengantar sekolah anak-anak, dan sore hari menyambut kedatangan suami sambil menggendong anak yang tentu saja sudah berdandan rapi dan wangi. Gambaran istri idaman banget ya? Hhehehe ….
Angan-angan tersebut sepintas seolah-olah bertolak belakang dengan pendidikan yang saya miliki. Terutama ibu saya,
“Buat apa kuliah kalau hanya jadi ibu rumah tangga?” “Buat apa punya sertifikat keahlian banyak, kalau kerjaannya hanya menggendong anak?”. Wkwkwk ….
Kalau menuruti orang tua artinya saya harus memilih tetap bekerja. Bukan tidak mau sich, ini juga menjadi salah satu keingianan saya dulu, menjadi wanita karir. Namun patuh pada suami juga salah satu harapan saya yang lainnya, yaitu fokus mengasuh dan mendidik anak. Sebab jika saya tetap bekerja sudah tentu anak akan diasuh oleh ART (Asisten Rumah Tangga), dan ini nggak baget buat saya. Saya pingin selalu mendampinginya, mengajaknya bermain, mengajarinya tentang segala hal, dan paling penting mengetahui setiap perkembangannya baik secara fisik