UA-83233104-1

bintang jatuh br

Sunday, 12 July 2015

Pendaftaran Gontor, Pengalamanku Bersama Sulung Bag. 2

Lebaran di Gontor, Pilihan Sulungku

Saat senior menanyakan “Mau lebaran di sini apa di rumah?”, aku tidak ikut menjawab. Begitu pula dengan suami. Kami sama-sama diam. Aku tidak ingin memaksanya untuk berlebaran dimana. Sepenuhnya keputusan aku serahkan ke sulung.

Siang sebelum daftar, aku sempat menggoda sulung dengan pertanyaan, “Kak, nanti tinggal di sini aja ya, sampai pengumuman?”

“Ahhh… Mama, nggak mau. Khan lama Ma, masak di sini sendiri?” jawabnya keberatan.

“Bukan sendiri, tapi banyak teman kok?” kembali aku menggoda.

“Emoh… nggak bisa ketemu adik!” jawabnya senyum-senyum.



Aku maklum, dia pasti berat ninggalin adiknya. Bagaimana tidak, kalau setiap hari, setiap saat dia bisa mengganggu dan menggoda adik, dimana dia mendapat hiburan menarik dari adiknya, sementara di asrama dia harus terpisah dengan adik, dan tak mengenal siapapun di sana.

Tapi diluar dugaanku,
ternyata si sulung menjawab dengan mantap, “Lebaran di sini” dihadapan seniornya.

“Bener ta Kak? Nggak pulang aja?” aku mencoba menyakinkan keputusannya.

“Iya” jawabnya mantap.

Alhamdulillah” ucap syukur saya dalam hari. Mengapa aku bersyukur? Karena menurutkan banyak keuntungan yang didapat jika ia tinggal di asrama. Di sana ia akan banyak belajar banyak hal berkaitan dengan materi ujian. Sementara di rumah tidak. dan juga yang lebih penting, cepat atau lambat toh dia nantinya juga akan tinggal di asrama. Jika keputusan dibuat sekarang , berarti ia sudah siap jauh hari. Dan itu bekal yang penting baginya.

Malam, pukul 11.00 proses pendaftaran selesai. Pendaftar sudah mencapai angka di atas 800, di hari pertama. ini diluar dari mereka yang sudah mendaftar tapi belum menyetorkan berkas.  Masih ada 2 hari lagi sebelum pelaksaan ujian lisan. Untuk tes kesehatan sulung tidak bisa malam itu,  dilakukan esok harinya, karena kantornya sudah tutup.

Karena belum siap segala perbekalan, malam itu juga kami mencarinya malam itu juga. Untung koperasi pondok yang menjual spon belum tutup. Kamipun membeli satu yang digunakan sulung sebagai alas tidur selama di asrama nantinya. Lalu piring, sendok dan gelas, digunakan sebagai tempat makan saat sahur dan buka puasa. Lalu hanger, dan gayung, sebagai tempat meletakkan peralatan mandi seperti: sabun, shampoo, sikat gigi, dan pasta gigi.

Ku antar sulung menuju kamarnya. Sekalian kami ingin melihat kondisi kamarnya. Disana rupanya sudah sangat ramai. Anak-anak datang dari berbagai penjuru. Batam,Bekasi, Jogyakarta, Bandung, Malang, Makasar, Padang, dan banyak lagi.

Jadi mulai malam itu kami tidur terpisah. Sulung di asrama, dan kami di tempat yang berbeda, diluar asrama.

Keesokan paginya, kami membelikan perlengkapan lainnya. untuk perlengkapan harus mengikuti aturan asrama.

Karena sebagian sudah bawa kami hanya menambahkan:
- Celana training, untuk olah raga.
- Sarung, sebagai ganti sarungnya saat di cuci.
- Baju hem lengan panjang.
- Sepatu fantovel hitam.
- Peci hitam
- Celana kain.
- Buku tulis.
- Susu/ energen, untuk menambah asupan gizi.

Setelah semua perlengkapan terpenuhi, kamipun berpamitan dengan sulung mau balik pulang. Karena  tetap disanapun tidak ada gunanya. Di asrama mereka telah mendapat jadwal kegiatan rutin setiap hari, seperti: shalat, pelajaran, mengaji, atau menghafal surat. Sementara wisma yang kami tempati lumayan jauh, tidak bisa melihat aktivitas sulung.

Tak bisa menahan tangis, akupun merangkul sulung dengan air mata yang mengalir deras. Berbagai peraaanku berkecamuk. Harapan, kekhawatiran, kerinduan, dan banyak lagi. Tapi apapun yang terjadi nantinya aku harus ikhlas. Ku serahkan sepenuhnya pada Sang Pemberi Hidup. Semoga ini adalah pilihan terbaik demi masa depannya, memberi manfaat baik buat dirinya, agama, orang tua dan seluruh umat. Aamiin.



Tulisan lain:

6 comments:

  1. Bismillah mohon doanya semoga anak saya akan diterima disana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin .... semoga doanya terkabul

      Delete
  2. Assalamualaikum Bu, saya Riri asal Jakarta dan masih kelas 2 SMP umum. Sy ingin masuk Gontor Putri intensif, tp ibu sy tdk menyetujui keinginan sy dan menyuruh masuk SMA umum. Sy sngt niat untuk masuk disana. Ibu sy mengizinkan untuk mencoba, yg sy takutkan ketika tdk lulus krna hanya membuang2 uang yg tak sdkit. Ditambah sy cm berasal dr sekolah biasa & ortu yg minim akan pengetahuan agama. Pengunguman kelulusan capel itu ktika sekolah umum mulai,artinya jk sy tdk lulus mau tak mau harus membeli kursi yg tentunya tdk murah. Sy jngin saran ibu, lebih baik mengikuti keinginan ibu sy atau prgi ke Gontor? Jawab ya Bu... Hehehe

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum Bu, saya Riri asal Jakarta dan masih kelas 2 SMP umum. Sy ingin masuk Gontor Putri intensif, tp ibu sy tdk menyetujui keinginan sy dan menyuruh masuk SMA umum. Sy sngt niat untuk masuk disana. Ibu sy mengizinkan untuk mencoba, yg sy takutkan ketika tdk lulus krna hanya membuang2 uang yg tak sdkit. Ditambah sy cm berasal dr sekolah biasa & ortu yg minim akan pengetahuan agama. Pengunguman kelulusan capel itu ktika sekolah umum mulai,artinya jk sy tdk lulus mau tak mau harus membeli kursi yg tentunya tdk murah. Sy jngin saran ibu, lebih baik mengikuti keinginan ibu sy atau prgi ke Gontor? Jawab ya Bu... Hehehe

    ReplyDelete

Tuliskan saran dan masukkan, demi perbaikan konten agar lebih bermanfaat bagi pemirsa semua