UA-83233104-1

bintang jatuh br

Wednesday, 22 May 2019

Nasi Lengkong Dibalik Cerita Ramadhan Saat Masa Kecil


Waktu masih kecil, bulan Ramadhan bagi saya adalah bulan istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya. Saya dulu sekolah SD di Tulungagung, tinggal bersama nenek. Selain saya ada satu lagi saudara angkat ibu yang juga tinggal di situ. Jadi kami berempat, yaitu saya, saudara angkat, nenek dan kakek.

Kakek dan Nenek sehari-hari adalah seorang petani. Selain bertani kakek berprofesi sebagai tenaga admin di sebuah sekolah, sementara nenek punya toko meracang di rumah.
Kakek dan nenek memiliki cara tersendiri untuk menganggap special di bulan Ramadhan. Khususnya beberapa kejutan-kejutan kecil yang selalu menganggap special bagi mereka yang berpuasa di rumah tersebut
Ada banyak cerita indah bagi saya bila mengingatnya saat berbuka, shalat terawih hingga makan sahur.

Menu tak biasa saat Berbuka
Nenek, dalam sehari-harinya selalu memasak sayuran sambal dan ikan. Namun saat puasa, seringkali membuat jenang baning (bubur sumsum), jenang gerendul, kolak tape, kolak kentang, dan rucuh srikaya, secara bergantian.

Bubur sumsum bikinan nenek menurut saya sangat berbeda dengan bubur sumsum yang banyak dijual di pasar. Nenek membuat bubur sumsum tidak hanya dari tepung beras, tetapi dicampur dengan sedikit tepung ketan.jadi rasanya lebih lembut dan lumer. Tambahan santan kanil dan juruh yang terbuat dari gula kepala membuat bubur sumsum bikinan nenak terasa lebih gurih dan nikmat.

Lalu jenang gerendul. Mungkin ada yang menyebutnya bubur srintil, atau apalah nama lainnya. Yang jelas jeneng gerendul bikinan nenek agak berbeda pada umumnya. Biasanya nenek membuat bulatan-bulatannya dalamnya diberi kelapa mudah yang diiris kecil-kecil. Jadi ketika dikunyah akan terasa krenyes-krenyes kelapa mudah yang rasanya manis dan gurih. Enak banget. Selain dari ketan, kadang nenek membuat jenang gerendul dari ubi kuning. Ini saya paling suka, apalagi kalau makannya pas masih anget-anget. Jenang gerendul Ubi kuning rasanya lebih empuk dan lembut, dan terasa lebih manis saat dikunyah.

Kolak tape, meski menu sederhana tapi saya suka. Apalagi nenek ketika membuatnya selalu di tambahkan santan kanil saat mau disajikan. Jadi mau dimakan hangat atau dingin pakai es, rasanya sama-sama enak.

Kolak kentang, nah mungkin ada yang belum pernah cona khan? Sebetulnya biasa aja sich, hanya kolak pisang, lalu dicampur dengan kentang yang dipotong-potong sebagai pengganti ketela atau singkong. Kolak ini sebetulnya sebuah kejadian yang nggak sengaja. Waktu itu nenek mau bikin kolak pisang, dan pingin dicampuri bahan lain seperti ubi atau singkong. Tapi karena ketika itu bahan yang dicari nggak ada, dan adanya hanya kentang, maka saya bilang, “Coba aja dicampur dengan kentang Nek! Pasti enak!”.

Nah, jadilah kolak kentang. Tapi menurut saya justru lebih enak, meski rasa kentang nggak semanis ketela. Rasa kentang yang khas itulah, yang menciptakan rasa lebih enak. Sejak saat itulah saya menjadi suka sama kentang. Bahkan dulu waktu awal-awal kerja seringnya bawa kentang rebus buat makan siang. Dan di luar dugaan dari kentang rebus inilah, yang menimbulkan kesan berarti bagi teman kerja saya, yang sekarang jadi papanya anak-anak, hehe … Agak aneh memang, kok bisa gara-gara kentang rebus ya si pria tersebut suka? Haha … dan uniknya si dianya baru cerita setelah saya punya anak ke empat, jadi ya baru-baru ini aja, wkwkwk …. Kapan-kapan dech saya cerita “true story” yang ini ya … semoga nggak lupa!

Ok, lanjut ya … menu berbuka, yaitu Rucuh Srikaya. Namanya unik ya? Bahannya adalah srikaya (moris) yang dibuang bijinya, lalu dikocok dalam gelas bersama gula pasir, setelah itu diberi sedikit air, dan dimasukkan es batu. Rasanya … emmm … segar. Dan ini bagusnya adalah bisa mencegah batuk. Oleh karena ini pula, selama puasa Insyaallah kami sekeluarga tetap sehat.

Shalat Terawih membawa oncor dan makan nasi lengkong

Panggilan sunnah untuk shalat terawih bagi saya adalah hal menyenangkan. Karena saat shalat terawih  inilah saya bisa bertemu dengan temen-temen sekolah yang tinggalnya di desa lain. Masjidnya tidak terlalu besar, akan tetapi saat ramadhan jamaahnya penuh, bahkan sampai jauh keluar masjid. Maklum masjid inilah yang akan menampung 4 desa sekitarnya.

Kami biasanya berangkat terawih membawa oncor (obor). Maklum waktu itu belum ada layanan listrik. Biasanya saya membuat sendiri oncornya. Bahannya saya mengambil dari bahan sederhana saja. Yaitu ranting pohon papaya. Karena ranting pohon papaya dalamnya berlubang seperti bambu. Caranya ambil bagian pangkal dari ranting agak ke batangnya agar tidak berlubang. Karena jika tidak ke pangkal maka nanti bocor ketika diisi minyak. Lalu potong dengan ukuran panjang sekitar 50cm. Lalu isi dengan minyak tanah (minyak gas), kemudian beri sumbu dari kain katun atau pakai sumbu kompor. Nah, oncor sudah bisa dinyalakan. Oncor inilah yang akan menerangi selama perjalanan sekitar 1 km.

Tradisi di sini, ketika malam ganjil di 10 hari terakhir selalu ada saja yang membawa bancaan dengan nasi lengkong. Lengkong adalah wadah berbentuk kotak yang terbuat dari pelepah pisang. Lalu lengkong tersebut dilapisi daun pisang sebelum diletakkan nasi. Untuk menunya bervariasi, kadang ayam lodho, telur, kadang pula telur dan tahu tempe. Dalam 1 lengkong tersebut biasanya dimakan ramai-ramai. Mungkin di sinilah letak kenikmatannya. Habis berjalan lumayan jauh menuju masjid, lalu shalat terawih tentu saja sudah terasa lapar lagi, dan cara makannya ramai-ramai. Jadi lauk biasa, terasa jadi luar biasa.

Serasa menjadi orang Spesial dipanggail saat Sahur 

Di sini, setiap Ramadhan selalu ada sekelompok remas yang berkumpul untuk membangunkan sahur keliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Caranya bervariasi ada yang menggunakan alat musik tradisional yaitu dengan kentongan. Ada pula yang membawa sound system yang ditarik menggunakan gerobak. Nah yang seperti ini biasanya mereka lengkap dengan mic-nya.

Sepanjang perjalanan mereka akan berteriak sahur-sahur dengan diiringi musik. Dan mereka akan memanggil nama-nama tertentu yang dikenal saat melintas di depan rumahnya. “Mbak Tatik … monggo enggal sahur”, itulah panggilan yang selalu terdengar saat melintas di depan rumah yang saya kenal sebagai teman sekolah. Dan biasanya saya balas dengan lambaian tangan dari balik kaca jendela. Senengnya bila teringat itu, serasa menjadi orang Spesial, hehe ….

Itulah sekelumit cerita Ramadhan saat masa kecil saya di Tulungagung. Terimakasih sudah menyimak ya …! Semoga bermanfaat!

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah menggunakan blog ini sebagai referensi.