UA-83233104-1

bintang jatuh br

Tuesday, 19 February 2019

9 Jam Travelling ke Malang Ala Backpacker

www.bundasugi.com


Ceritanya pas liburan panjang kemarin saya ingin mengajak piknik anak-anak yang lebih menantang. Karena beberapa kali udah staycation, maka acara jalan-jalan kali ini saya ingin membuat konsep yang berbeda. Saya ingin ngajak mereka berpiknik agak jauhan dikit dengan ala-ala “backpacker-an” gitu, hehe …

Apa sich backpacker itu?



Mungkin pembaca ada yang belum tau. Baiklah, mari kita jabarkan arti kata backpacker dengan menelusuri asal katanya. Saya mencoba mengartikannya dari beberapa sumber dan asal usul dari istilah tersebut.

Backpacker berasal dari kata backpack. Sebagai kata kerja 'backpack' memiliki arti travel yang berarti perjalanan, serta hike carrying one's belonging in a rucksack. Yaitu bepergian atau berjalan kaki dengan membawa sebuah ransel di belakang/ punggung. Namun arti 'backpack' sendiri telah meluas, tergantung mengartikannya dari sudut mana.

Backpacker juga dapat diartikan sebagai perjalanan mandiri. Maksudnya tak ada trip organizer yang mengatur selama melakukan perjalanan. Jadi mulai dari berangkat hingga pulang kita sendiri yang mengatur dan menentukan.


Nah, dari beberapa arti tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa “backpacker” adalah perjalanan atau jelajah yang dilakukan secara mendiri (tanpa trip organizer) dengan membawa rangsel. Sepakat ya …?  Atau kalo saya mau nyari gampangnya saya pakai istilah mbolang. Berpetualang hehe …

Naik Kereta
Karena konsepnya berpetualang, maka perjalanan saya mulai dengan naik kereta. Eh, bentar saya belum bilang ya .. tujuan saya kali ini adalah Wisata Sengkaling Malang.

Empat hari sebelum keberangkatan, saya mulai memesan tiket. Mengapa harus jauh hari pesannya? Iya, sebetulnya ini untuk antisipasi agar tidak kehabisan tiket. Saran saya kalo mau bepergian pakai kereta, maka pesanlah tiket minimal 3 hari sebelumnya. Namun kalo pas liburan, biasanya tiket akan habis lebih awal. Jadi pesanlah jauh-jauh hari. Untuk kereta jarak jauh atau kelas bisnis maupun eksekutif, kita bisa memesannya secara online. Namun untuk tiket local atau ekonomi seperti Penataran, memesannya harus di stasiun.

H-4, ternyata tiket Sidoarjo – Malang sudah habis. Yang ada hanya tiket berdiri. OK, tujuan utamanya khan mau “mbolang”, … maka berdiripun saya ambil. Saya kemukakan ke anak-anak bahwa tiket yang ada berdiri, “Gimana?”. Ternyata mereka “OK”. Siip … kita siap jadi “backpacker” komentar saya.

Tanggal 31 jam 05.20 kereta berangkat. Menjelang tahun baru sich.

Jam 04.00 saya, suami dan anak-anak sudah siap berangkat ke stasiun. Selesai shalat shubuh, kami segera berangkat.

Alhamdulillah, meski dapat tiket berdiri, namun nyatanya kami masih bisa duduk. Karena ada beberapa kursi kosong yang belum ada penumpangnya. Maka kamipun bisa menenpatinya meski harus berpencar. Si adek sama saya, dan kakak sama papanya. Tak lama kemudian penumpang di samping saya turun, Alhamdulillah kami bisa duduk satu bangku.

Stasiun Malang Kota Baru
Sampai di stasiun Malang Kota Baru, kami mencari transportasi ke tempat tujuan. Mengingat waktu masih sangat pagi, maka kamipun mampir dulu ke alun-alun beristirahat.

Dari stasiun ke alun-alaun tidaklah terlalu jauh. Namun nggak mungkin juga berjalan kaki hehe … kasihan anak-anak. Semula mau pesan grab, namun Jeza, anak ke-2 saya melarang. “Jangan naik grab Ma … naik apa gitu yang lainnya!”. Berdasarkan usulan si kecil (anak bungsu), akhirnya kamipun naik bentor, alias becak motor.

Kalo dihitung-hitung sich harga grab car dengan bentor lebih malah bentor, tapi saya menyetujui aja, yaaa… itung-itung bagi-bagi rejekilah hehe …

Bentor

Menyusuri kota Malang dengan bentor di pagi hari ternyata menyenangkan. Sepanjang perjalanan kami bisa dengan leluasa melihat-lihat sekeliling. Kota Malang pagi ini serasa masih seperti dulu, sejuk, dan udaranya terasa segar. Bedanya kini lebih banyak bangunan-bangunan megah layaknya kota Surabaya.

Enaknya lagi naik bentor sopir berada di belakng dan kita berada di depan. Jadi makin asyik dan bebas mau mengambil gambar selama perjalanan.

Alun-alun


Banyak hal baru yang saya temui di alun-alun kota Malang. Air mancur yang berada di tengah-tengah area serta adanya burung dara yang dilepas begitu saja menambah kesan hidup dan bernuansa alami. Apalagi burung-burung tersebut juga tidak takut mendekat dengan pengunjung. Sayangnya saya tak punya kesempatan untuk mengambil gambar. Selain sibuk menyiapkan sarapan, banyak pula anak-anak kecil yang berlarian mengejar burung. Sehingga burungnya tak sempat hinggap. Termasuk anak saya, hehe …

Ada jogging track, play ground dan beberapa tempat duduk yang nyaman disediakan untuk memanjakan pengunjung.

Taman Wisata Sengkaling


Tepat jam sembilan kami sampai di Taman Wisata Sengkaling. Tak sama dengan tempat wisata lain, tiket di sini menurut saya tergolong murah. Hanya Rp 25.000,- per orang, kita sudah bisa menikmati fasilitas di tempat tersebut, termasuk berenang gratis. Namun jika mau berenang di kolam enang primitive, maka harus bayar lagi. Kolam renang ini lebih cocok disebut water park. Jadi banyak permainan dan arsitekturnya lebih artistik. Ada juga tiket terusan, kalo nggak salah harganya Rp 50.000,- apa Rp 100.00,- gitu saya lupa.

Sengkaling sekarang jauh lebih bagus dan lebih bersih dibandingkan yang dulu. Baru tau, ternyata Sengkaling sekarang sudah ganti pengelola, yaitu UMM, yayasan Universitas Muhammadiyah Malang.

Untuk tulisan tentang Wisata Sengkaling bisa dilihat di sini:


Jam 14.00 kami sudah bersiap-siap balik ke Surabaya. Ini karena kami menyesuaikan dengan jadwal keberangkatan kereta yang akan membawa kami kembali.

Sebetulnya bepergian menggunakan kereta ada enak dan nggak enaknya sich. Karena kita seolah diburu-buru waktu. Tepat jam sekian harus berangkat, nggak bisa santai. Tetapi saya mengambil dari segi positifnya, yaitu ingin mengajarkan pada anak tentang disiplin waktu. Jadi hidup itu harus memiliki planning. Harus mengerjakan apa, harus ngapain dan sebagainya. Jangan sampai kita santai-santai membiarkan waktu berlalu dan acara kita menyesuaikan.

Okey … sampai di sini dulu ya cerita mbolang kami kali ini. Next time, kami akan cerita lagi dengan tujuan lain dan lebih seru lagi. Terimakasih sudah berkunjung ke blog bunda sugi. See you …!




Mungkin anda menyukainya:











8 comments:

  1. Saya punya hutang ke anak untuk membawanya jalan jalan ke Batu Malang. Maunya ke museum angkut. Duh semoga terlaksana. Amin. Kalau dari tempat saya ke Malang pakai jalur darat bisa sekali pergi dua hati dua malam hehehe

    ReplyDelete
  2. Seru nih backpakeran naik kereta apalagi sama keluarga, harus dicoba nih karena selama ini hanya rencana saja.

    ReplyDelete
  3. Saya pernah ke malang 2 hari dan berasa kurangggg banget..pengen ke sana lagi kalo punya waktu piknik yg lebih banyak.. biar puas pikniknya

    ReplyDelete
  4. Kalau liburan ala backpacker belum pernah daku coba Bunda, kek nya seru yah

    ReplyDelete
  5. Seru banget ini sekeluarga melakukan backpakeran ke Malang, jadi pengen nyobain juga ngajak anakku. Sekalian main ke beberapa tempat yang menjadi list agenda liburan di tahun 2019

    ReplyDelete
  6. Saya agak kaget waktu di tulisan masih ada tiket ke malang h-3 owalahh ternyata mba dari Sidoarjo :D
    Seru juga ya ajak anak bertualang ala backpacker

    ReplyDelete
  7. Pengen banget euy saya liburan ke Malang bareng anak-anak. Apalagi kata teman-teman biaya traveling di sana terjangkau banget. Semoga ada kesempatan dan rezeki biar bisa liburan ke sana. Amiiin..

    ReplyDelete
  8. Wah senengnya liburan ke Malang meski cuma 9 jam.
    Selain ngajarin disiplin anak dengan jadwal, kereta juga anti macet bunda. Coba kalau pakai jalur darat, bis atau mobil pribadi berada jam aja tuh di jalan ..maceeet banget jalur situ kan?

    ReplyDelete

Terimakasih sudah menggunakan blog ini sebagai referensi.